Selasa, 02 Desember 2014

 WANITA ITU ZAHREENA

Langit pagi ini sepertinya tak pernah mau bekerjasama denganku, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Selalu kelabu. Tak pernah ada jeda untuk matahari sekali-kali menyibakkan sinarnya, awan selalu saja menutupi dan enggan berpindah. Motor butut ku sampai tak kuat lagi ngegas untuk sampai di kantor tepat waktu. Selain jalan raya yang digenangi luapan air got motor ku ini juga sepertinya alergi dengan air hujan, setibanya hujan yang menyambut tiap pagi motor ku selalu sulit sekali untuk dihidupkan. Tapi lupakanlah motor butut ku itu.
Pagi ini aku harus berangkat ke kantor lebih awal, ini adalah tanggal muda saatnya menerima gaji bulanan dari bos secara langsung. “ini untukmu Fuad, terimakasih telah bekerja secara profesional di kantor ku ini, semoga kau selalu betah. Ada sedikit bonus tambahan untuk bulan ini” itu lah ucapan bos besarku, Pak Rudi. “Alhamdulillah, terima kasih banyak pak atas semua nya” ujarku membalas. “Berterimakasih lah kepada Allah nak, bapak kan hanya perantara” kalimat jitu yang selalu dikeluarkan Pak Rudi disaat tanggal muda tiba.
Aku bergegas kembali ke meja ku, setumpuk kertas dan ratusan email sudah menunggu ku, inilah pekerjaanku.
Suara ketikan dan dering telpon tak henti-hentinya mengirama puluhan pekerja di ruangan ini. Suara yang sudah biasa. “hari ini ada karyawan baru yang akan mengisi meja kosong di sebelahmu Fuad” suara itu berkali-kali terulang di setiap perjumpaanku dengan orang dalam ruang itu. “benarkah? Siapa? Berarti aku tak akan sendirian mulai hari ini ya. Berita yang bagus”
Serambi mengerjakan pekerjaan yang semakin siang semakin banyak, ruangan ini tak pernah sepi dari obrolan para karyawan, aku yang duduk di sebelah pojok kanan pun tak mau tertinggal dari berita-berita atau gosip yang beredar.
“Fuad, kau tau karyawan baru itu perempuan. Senang sekali kau pastinya, aku yang selalu ingin duduk di sebelah perempuan di kantor ini saja tak pernah terwujud. Kau beruntung Fuad” ucap Togar, karyawan yang senang sekali menggoda perempuan, yang tak pernah mengenal usia yang telah menginjak kepala empat.
Hari semakin siang, setelah makan siang dan sholat serta istirahat yang cukup inilah saat kerja kembali dimulai. Aku mendapat banyak sekali pesan masuk di email. Harus kuselesaikan hari ini juga, tak peduli lah jika aku pulang malam.
“Assalamu’alaikum. Apakah anda Bapak Fuad”
“Wa’alaikum salam. Iya saya Fuad” dengan sangat tak sopan aku sampai tak menoleh siapa yang menyapaku, sampai pemilik suara itu menepuk pundakku. “saya karyawan baru disini” suara itu yang membuat aku menoleh. Aku bergegas berdiri dan merapikan apa-apa yang harus aku rapikan.
“maaf, saya kira si Rani meja pojok kiri. Silahkan duduk, ini mejamu dan mulai hari ini kau akan bekerjasama dengan ku mengerjakan pekerjaan ini, yang satu tahun belakangan ini selalu ku kerjakan sendiri. Kau bisa ambil berkas-berkas yang harus dikerjakan di loker milikku. Oh iya, jangan lupa sertai tanda tangan mu dalam setiap pengecekan berkas ya. Jika kau bingung, tanyakan saja padaku”
Aku kembali bekerja. Sangat melelahkan. Aku memang tipe lelaki yang tidak suka berlama-lama memandang wanita, bukan karena aku sudah menikah tetapi karena aku masih berumur 25 tahun dan masih lajang itulah yang menyebabkan aku harus menjaga pandangan ku dari yang bukan muhrim. Aku punya impian, nikah muda. Tapi, mau bagaimana lagi? Belum ada calon yang tepat untukku.
Wanita itu mengangguk “Maaf sebelumnya pak Fuad, nama saya Zahreena. Saya pasti akan banyak bertanya dengan Bapak mengenai pekerjaan ini” wanita berkerundung biru ini mengepakkan senyumnya padaku. Subhanallah dia cantik sekali.
“Zahreena, panggil saja saya Fuad tidak usah dengan kata-kata Bapak, seolah saya sudah sangat tua. Saya baru 25 tahun”
“baiklah Fuad” dia mulai mengerjakan pekerjaannya.
Di sepanjang siang ini Zahreena menannyakan banyak hal padaku, mulai dari pekerjaan sampai pribadiku. Dia wanita yang aktif dan cekatan dalam mengerjakan pekerjaannya. Pertanyaannya tidak basa-basi melainkan apa yang memang harus ditanya saja.
“kau kenal Pak Rudi?”
“Kenal. Beliau rekan suami ku dulu dan sekarang masih akrab dengan ku serta anak-anakku”
Tak kusangka, Zareena yang terlihat lebih muda dari ku telah menikah dan sudah mempunyai anak.
“kau sudah menikah?”
“alhamdulillah sudah Fuad, bagaimana denganmu? Sudah punya anak berapa?”
“AllahuAkbar, saya belum menikah Zahreena. Lagi pula kan saya masih muda. Belum ada calon sih lebih tepatnya”
“Fuad, menikah muda itu kan bagus. Andaikan suamiku masih hidup dia juga seumuran dengan mu. Tapi kami sudah punya satu anak”
Subhanallah, ternyata suaminya telah tiada. Dia banyak cerita padaku tentang perihal meninggal suaminya dan anaknya yang baru berusia 1 tahun. Dia wanita yang tegar, mampu bangkit dari keterpurukan.
“kau tidak ingin menikah lagi?” ucapku lirih
“jika Allah mengizinkan aku untuk menikah lagi aku mau, demi Zahra putriku dan demi keluarga ini. Tapi entah siapa lelaki itu aku juga tidak tahu”
Perbincangan kami terhenti sampai disana. Aku gugup. Mengapa hatiku seolah bergetar dan mendapat isyarat besar.
Sejak hari itu aku sering menanyakan tentang Zahreena pada pak Rudi.
“Dia perempuan yag baik Fuad, sholehah dan juga pekerja keras. Itu yang membuat dia disegani oleh banyak orang.” Itulah perkataan Pak Rudi sebelum aku pulang ke rumah.
Enam bulan sudah perkenalanku dengan Zahreena. Aku sudah kenal dekat dengan Zahra, kami sering berpergian bersama. Kini aku telah menjadi ayah dari putri tunggalnya. Aku bahagia. Aku mencintaimu karena Allah, Zahreena.
Cerpen Karangan: Red Apple

Tidak ada komentar:

Posting Komentar